ANGROK 2
Pendopo di barat Desa Karuman selalu ramai dari siang hingga petang. Saking ramainya, tempat ini sering dikira pasar oleh para pedagang desa lain yang melintas. Keramaian itu sumbernya dari arena perjudian, milik bandar judi berjuluk Mbah Karuman. Di masa lalu ia hanyalah seorang penjudi biasa yang kemenangannya untung-untungan. Tapi kini selain sebagai pendosa yang mengelola […]

Pendopo di barat Desa Karuman selalu ramai dari siang hingga petang. Saking ramainya, tempat ini sering dikira pasar oleh para pedagang desa lain yang melintas. Keramaian itu sumbernya dari arena perjudian, milik bandar judi berjuluk Mbah Karuman. Di masa lalu ia hanyalah seorang penjudi biasa yang kemenangannya untung-untungan. Tapi kini selain sebagai pendosa yang mengelola tempat judi, ia juga menjadi pengayom yang disegani. Begitu disegani hingga nama desa disematkan dalam julukannya saat ini. Hidupnya mulai berubah sejak ia yang hidup sebatang kara, memutuskan untuk mengasuh seorang anak laki-laki..

Sore itu Mbah Karuman sedang mengawasi aktivitas arena judi, ketika suara kuda yang meringkik karena dipaksa berhenti turut menarik perhatiannya. Seseorang berbalut jubah sewarna gula aren turun dari kuda. Mbah Karuman melangkah tergesa menyambut dengan senyum yang mengembang lebar dan berujar..

"Ee..e..e.. Apa jangan-jangan semalam aku mimpi kejatuhan purnama? Sampai-sampai kedatangan tamu ageng hari ini.",

"Ki..", Tamu tersebut menunduk sekilas memberi salam. "Apa kabar Ki?", pertanyaan tersebut disambut pelukan erat dari empunya rumah.
"Ayo ikut ke belakang. Jangan disini, tak baik orang sepertimu tercemar papa".
"Sebentar Ki, kuda ini ha-.."
"Haalah tah!.. Rek! Darek!..Segera kamu urus kuda ini dengan baik", perintah Mbah Karuman pada salah satu pesuruhnya. "Njih, Mbah.".
"Sudah to? Ayo!", sang tamu tertawa ringan saat dipaksa segera mengikuti langkah lelaki tua didepannya.
Dengan sumringah layaknya anak dan ayah yang lama tak jumpa keduanya berjalan menuju area belakang pendopo. Ada pagar tinggi yang membatasi arena judi dan rumah tempat Mbah Karuman dan cucunya tinggal.

*

Setelah membersihkan diri sang tamu menyusul Mbah Karuman yang menunggunya di depan rumah. Duduk menyandar pada dinding anyaman bambu dan alas duduk yang memanjang dan lebar, dari kepadatannya seperti terbuat dari kayu jati. Mbah Karuman memandang jauh pada sinar lembayung yang berpendar dibalik Gunung Kawi.

"Rumah ini memiliki harta karun rupanya. Aku juga ingin sampai mati bisa menghabiskan hari dengan menikmati pemandangan seperti ini Ki.."
Mbah Karuman mengalihkan pandangan pada tamunya yang kini tak lagi mengenakan jubah, tapi masih dengan pakaian berwarna senada.
"Hahahaha…yaa ya..memang harta karun. Tapi harta karunku yang sebenarnya belum pulang. Entah bermain dimana dia hari ini."
Sang tamu mengernyit, "Ada harta karun lain?"
" Cu-.."
"Mbaaaahhhhh!!", keduanya tersentak mengalihkan pandangan ke arah suara nyaring yang memanggil. Seorang anak kecil berlari pelan sambil memeluk bubung bambu. Mbah Karuman menoleh pada tamunya sekilas dan berbisik diantara senyum.."Jaka. Cucuku.."
"Mbaahhh!!"
"Yaaaa…Ee..ee..e bawa apa ini hee??!"
Anak kecil berambut sebahu itu hanya meringis dan membiarkan tangan keriput mengambil beban beratnya. Matanya berbinar menunggu reaksi sang kakek.
"Eee..ee..e.. main jauh sekali" ujarnya saat mencium aroma yang keluar dari bubung, kemudian menuangkan sedikit isinya ke tutup bubung dan meneguknya. "Ahh..", ekspresi puasnya menunjukkan betapa tuak yang ia minum adalah kualitas terbaik yang hanya bisa didapat dari 'panen' aren pertama. Tersenyum ia memandang bocah dengan pipi tembam di depannya, lalu sedikit mengernyit saat melihat pipi itu makin lebar merekah senyum hingga sebagian gigi kelincinya kelihatan.
"Hmm.. Njaluk opo?"
Ini dia kesempatan yang ditunggu-tunggu..
"Mbah,… Setelah peken pasar purnama nanti, Tita akan ikut Boponya mengambil barang dagangan dari Desa Weliran. Bopo Sanggeh bilang ia akan menceritakan banyak kisah selama perjalanan. Semua pekerja mereka juga ikut. Paman Rangkut juga, katanya akan mengajari kami berkelahi kalau aku mau ikut. Jadi…- "
"--jadi kau mau ikut?"
Setengah menunduk takut-takut, Jaka mengangguk. Memelas.

Mbah Karuman menghela nafas panjang dan mengangguk. Mata Jaka berbinar dan hampir melompat girang sebelum tersentak melihat sosok lain di situ. Saking antusiasnya ia sampai tak menyadari ada orang lain di rumahnya. Mbah Karuman tertawa melihat reaksi polos cucunya.
"Hahahaha…sini sinii ini tamu ageng namanya-.."
"--Lohgawe."
Kali ini Mbah Karuman yang tersentak karena ucapannya dipotong suara berat dari tamunya. Sang tamu mendekat menepuk bahu lelaki kecil dihadapannya.
"Panggil aku Paman Lohgawe."

To Be Continue..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *