ANGROK
Suara sahutan burung jalak mengiring lengsernya matahari ke arah barat. Derap langkah lincah menyusuri jalan setapak di pinggir Alas Rubat. Cuaca tak lagi terik, kaki mungil menapak ringan seperti lenggang kuda yang tak payah ditarik. Tak juga tampak lelah meski dirinya baru saja menuruni lereng timur Gunung Kawi. Kedua tangannya menggenggam erat tali rotan pengikat […]

Suara sahutan burung jalak mengiring lengsernya matahari ke arah barat. Derap langkah lincah menyusuri jalan setapak di pinggir Alas Rubat.

Cuaca tak lagi terik, kaki mungil menapak ringan seperti lenggang kuda yang tak payah ditarik. Tak juga tampak lelah meski dirinya baru saja menuruni lereng timur Gunung Kawi. Kedua tangannya menggenggam erat tali rotan pengikat bubung bambu yang tersampir di punggungnya. Bubung bambu itu panjangnya bahkan hampir separuh tubuh orang dewasa. Sesekali saat ia melompat, percikan beraroma manis asam keluar dari bubung bambu itu.

Tuak legen.. kesukaan simbah.

Ada petakan kebun aren milik mantan warok yang paling disegani di daerahnya, ia baru saja dari sana. Entah siapa nama aslinya, semua orang memanggilnya Ki Warok, padahal ia sudah lama pensiun dan tidak lagi melibatkan diri dalam urusan pertunjukan. Konon, di masa lalu Ki Warok adalah seniman paling tenar langganan bangsawan. Kini ia malah menyingkir ke gunung dengan beberapa mantan gemblaknya. Kata mbah, Ki Warok tetaplah seniman karena di sana, Ki Warok dan pengikutnya mencipta tuak-tuak legen terbaik. Legen terbaik, kata mbah, diambil dari panen aren pertama dini hari, saat embun sudah berbentuk jaring-jemaring di rerumputan dan belum tersentuh sinar matahari. Itu butuh keterampilan, disiplin, ketekunan serta among roso. Kombinasi sifat-sifat itu hanya ada pada diri seorang seniman. Berat. Otak muda di dalam kepalanya belum sepenuhnya paham. Satu-satunya hal yang ia pahami, mbahnya selalu berubah jadi pintar ngomong kalau sedang mabuk.

Sebagai anak laki-laki, bukannya ia tak cukup nakal untuk meneguk barang sedikit. Ia hanya tak cukup penasaran. Ia pernah menyicip, dulu sekali. Rasanya tak semanis aromanya. Pahit, sepahit kenangan di hari yang sama. Kenangan yang berusaha ia kubur dalam-dalam.

Lalu kakek macam apa yang membiarkan anak kecil mengambil minuman keras langsung dari tempat penyulingannya di lereng Kawi? Tidak. Ia tak akan membiarkan seorang pun berprasangka buruk pada Mbah-nya. Bubung bambu dan seluruh isinya adalah sebuah hadiah. Hari ini ia sedang dalam sebuah misi. Misi untuk menaklukkan hati sang kakek.

To be continue..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *